Sahabat dan Cinta
Sahabat dan cinta dua hal yang sama-sama
penting dalam hidup ku, saat ini aku benar-benar bingung dengan dua hal itu
sampai membuat nilai akupun sedikit menurun.
Siang itu seperti biasa aku galau lagi karena
kedua hal itu, bagaimana tidak galau disatu sisi aku memang sangat menyayangi
Nanda sahabatku dan disatu sisi akupun ingin jadi pacarnya Rio yang ternyata
Nandapun menyukai Rio sejak lama. Saat ini aku hanya bisa diam termenung
dikamar dan menunggu balasan sms dari Reisha yang sedari tadi aku kirimi sms
tentang apa yang aku alami siang ini. Tertterttereeeeeeeeeeeeeeet handphone aku
akhirnya bergetar dan itu telfon dari Reisha
“Mi, lebih baik kamu jujur aja sama Nanda di
pasti ngerti kamu Mi.“ ucapnya dengan nada bijak.
“Tapi Sha, aku ga berani aku takut kalau harus
bertengkar dengan dia. Tapi aku juga sayang Rio aku ga bisa nolak dia Sha.”
ucapku setengah menangis.
“Ya udah Mi, sekarang cuma satu jalannya kamu
bilang jujur ke Nanda dan apapun yang terjadi yang penting kamu udah jujur ama
sahabat kamu. Daripada dia tau dari orang lain lebih baik kamu yang bilang
pasti Nanda ga akan terlalu marah percaya deh sama aku Mi.”
“Ya udah Sha, tapi besok temenin aku ya aku ga
berani sendirian.”
“Iya sip, udah sekarang kamunya tidur aja ya
biar tenang.”
“iya makasih ya Sha.”
“Iya sayang, sama-sama.”
“Klik”pembicaraan ditutup aku pun bergegas
tidur karena mataku benar-benar sudah sebesar bola bekles benar-benar sembab
dan bengkak saking rajinnya menangis.
Esok harinya aku berangkat sekolah seperti
biasa dan tetap tersenyum seperti biasa dan akupun bersikap biasa pada Nanda,
namun keadaan memanas ketika Renna menghampiri kami yang tengah mengobrol dan
tiba-tiba berkata “Mi kamu jadian sama Rio?”
Muka ku memerah, tenggookanku pun tersedat aku
mematung untuk beberapa saat karena ucapan Renna. “Hah? Kamu jadian Mi sama Rio?”
ucap Nanda kaget.
“Engga Nan, Ren, kami hanya berteman ga lebih
dari itu.”
“Yang bener Mi? Kalian sering sms-an kan?”
“Iya tapi hanya sebatas teman dan semua yang
aku tau tentang dia aku kasih tau Nanda.”
“Bener Mi kamu ga jadian kan? Kamu kan tau Mi
aku suka dia udah sejak lama.”
“Iya Nan, bener deh aku ga mungkin menyakiti
perasaan sahabat aku sendiri. Kamu dapet berita itu dari mana Ren?”
“Dari Rio, tadi aku ga sengaja denger
pembicaraan dia sama Dion. Eh udah ya aku mau ke kantin.”
Aku terdiam sejenak bersama Nanda, “haruskah
aku membohongi dia? Tapi akupun tidak bisa jujur terhadap Nanda.” ucapku dalam
hati. Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara langsung pada Rio.
“Nan aku kekelas dulu sebentar ya.”ucapku memecah
kesunyian diantara kami.
“Mau apa Mi? Aku ikut.”
“Ya udah, yuk sekalian bentar lagi masuk”
Kami pun berjalan ke kelas, langkahku tak
seperti biasanya dan nafas ku pun terengah-engah karena menahan rasa yang sekarang
aku pendam, aku sudah niatkan aku harus
berbicara pada Rio. “Ri, aku mau bicara sebentar.” teriak aku di depan pintu. Semua mata
memandang pada ku dan Rio pun celingak-celingukan seperti ada yang aneh dan
termasuk Renna dia hanya memandangiku.
“Ada apa Mi? Disini aja.”
“Cepet keluar, kita bicara diluar ini penting.”
“Ri kamu bilang apasih sama Dion? Kita ga
jadian, aku dan kamu itu hanya sahabat.”
“Hah? Dion? Aku ga bilang apa-apa dan aku ga
ngerti apa yang kamu bicarakan.”
“Udahlah Ri, galucu tau pokonya mulai saat ini
jangan sms aku lagi!”
“Hah? Kenapa Mi? Aku salah apa? Aku Cuma suka
sama kamu kenapa kamu kaya gini?”
Muka ku memerah, dan aku terdiam lagi. Renna
pun kaget dengan ucapan Rio, tiba-tiba Reisha keluar kelas karena mendengar
suaru ku yang tadi setengah membentak.
“Kenapa? Ada apa ini?” tanya dia kebingungan.
“Ga tau aku Sha, aku ga ngerti apa yang
dibicarakan Mia.” ucap Rio sambil garuk-garuk kepala yang aku tau kalau kepalanya
itu tidak gatal.
“Oh, aku paham. Sekarang gini ya lebih baik
kalian bicara lagi bertiga dan saling jujur.”
“Sha, aku ga bisa jujur aku gamau nyakitin
perasaan Nanda”
“Mi, sekarang ini Nandanya ada Rionya ada.
Udah ya jelasin aja udah terlanjur kaya gini.”
“Mi, apa yang kamu sembunyikan dari aku? Lebih
baik kamu jujur sama aku Mi.”ucap Nanda sambil menatapku tajam.
Aku hanya bisa terdiam dan tertunduk lemas
karena aku benar-benar bingung apakah harus aku ungkapakan semuanya? Sementara Reisha
yang sedari tadi berdiri disampingku dan memberi sinyal “ Ayo cepat bilang!
atau aku yang bilang? Jujur lebih baik Mi.”
Akhirnya dengan segenap jiwa aku memberanikan
diri untuk angkat bicara.
“Nan, sebenarnya aku juga suka sama Rio udah
lama.” ucapku gemetaran.
Nanda terkejut matanya melotot penuh amarah
dan Rio pun terkejut namun senyuman mengembang di wajahnya.
“Mi? Sumpah kamu ga bercanda? Mi sejak kapan?
Jadi kamu beneran jadian sama Rio? Kamu udah ngingkarin persahabatan kita Mi!”
“Aku memang suka tapi aku ga pernah ngungkapin
rasa itu, aku berusaha buat menghilangkan perasaan itu aku ngedukung kamu dan
selalu membicarakan kamu kepada Rio.”
“Ah omong kosong! ya sudahlah jadian aja sanah
kalian ga usah mikirin aku dan mulai saat ini kita putus jadi sahabat dan aku
pindah duduk sama Karin!”
“Nan, dengerin dulu aku tolong jangan musuhin
aku, maafkan aku.”
“Nan, dengerin dulu. Mia ga salah kamu jangan
egois gitu.” ucap Reisha membela.
“Udah lah kamu hanya membela dia! kalian
berdua sama aja!”
Akupun menangis, Reisha berusaha menenangkan
aku. Rio hanya terdiam tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya dia
benar-benar bingung dan aku lebih bingung.
Sudah 5 hari aku tak berbicara dengan Nanda
dan Rio sejak kejadian itu. Handphone pun aku matikan dan bahkan entah dimana
aku menyimpannya. Hari ini rasanya sangat berat untuk melangkahkan kaki ku di
depan gerbang sekolah, tanpa sengaja aku datang bersamaan dengan Reisha.
“Mi,
tunggu!” teriak Reisha.
“Ada apa sha? Muka kamu mencurigakan.” ucapku
asal.
“Eh sial, aku ada berita bagus buat kamu.”
“Apaan? Ngomongnya sambil jalan aja ya?”
“Iya sip, Mi kemarin Nanda menelfon aku dan
dia ngaku salah sekarang dia mau bicara sama kamu.”
“Hah? Beneran Sha?”
“Iya entar deh istirahat dia pasti ngomong.”
Saat jam pelajaran aku sangat tidak fokus,
mataku selalu kebelakang memperhatikan Nanda tak sabar rasanya menunggu waktu
istirahat. Kriiiiiiiiiing bel akhirnya berbunyi semua anak berhamburan keluar
tapi aku hanya duduk dan menunggu Nanda. Akhirnya Nanda menghampiriku
“Mi, maafkan aku aku yang terlalu egois tidak
memikirkan perasaan kamu dan selalu mementingkan diri aku sendiri.”
“Nan, maafkan aku juga mestinya aku jujur dari
awal sama kamu. Aku sekarang bakal nolak Rio secara resmi ya.”
“Jangan Mi, terima aja dia kasihan kalian
saling suka.”
“Nan? Aku ga enak hati sama kamu.”
“Ga apa-apa Nan, aku kayanya udah balik lagi
ke Dion jadi kamu jadian aja sama Rio ya.”
“Beneran ga apa-apa Nan?”
“Iya ga apa-apa Mi, yang penting kalian
bahagia.”
“Nanda sayang makasih, pokoknya aku ga akan
mengecewakan kamu lagi dan aku ga akan menutupi apapun dari kamu.”
“Iya, sahabatan lagi ya sama aku? Ga kuat
musuhan sama kamu.”
“Iya Nanda, aku juga.”
Akhirnya akupun berbaikan, senyuman kembali lagi
mengembang di wajahku dan Nanda termasuk Rio juga yang akhirnya aku terima.
Persahabatan itu sungguh indah dan aku berharap aku bisa bersahabat dengan
Nanda sampai akhir hidupku J
0 Comments:
Posting Komentar